Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Gaun Itu Ku Campak

Gambar
Tatapan ini kosong Semenjak bintang dan rembulan bernyanyi. Syair surya yang sudah bersembunyi, tiba saatnya mengenak gaun .. gaun koyak yang hampir putus jahitannya. Ingin ku campak segera Setelah kemuning surya menerobos celah-celah bukit. Hanya itu yang ku mau. ya... hanya itu Hingga terbosan itu pamit, Dan gaun koyak itu tak lagi kupakai. Hingga Pijar bintang dan rembulan Berbisik: Di sana masih ada asa Temui saat kisah ini kembali menatap dan berganti warna Ya.. gaun itu ku campak.

Di Dalam Taman

Aku menunggu, tapi tak tahu siapa Akasia dan gladiol tak menyapa Bangku-bangku taman enggan bercerita Aku menunggu, usia merambat dalam jarak tak terduga Lalu yang tinggal, diam dalam semestaku Suara-suara serangga Serak daun-daun dan semak Semua serba abadi Semua serba abadi Pot-pot bunga: yang mekar Hanyalah luka Impian-impian entah apa Aku menunggu, usia merambat dalam jarak tak terbaca

Orkestra Di Stasiun Kota2

Bangku-bangku kosong, tanpa jejak-jejak penonton Kau yang menempuruk di sampingku Mengapa tiba-tiba bergegas keseberang waktu (Datang pergi irama nafas kereta mengusung bayangmu) Lokomotif hitam, irama-irama yang hitam dan aku yang terkurung dinding gelap Tanpa jendela terbuka Sendiri, hingga ketakutan mengental- Duka!

Orkestra Di Stasiun Kota1

Senantiasa kita menunggu jam-jam berangkat dan jam-jam pulang, Di tembok yang hitam itu Peluit masih memanggil-manggil, Masih sayup masih menggetarkan bayang-bayang kita Yang tinggal pada papan-papan nama Sebelum segalanya terhapus matahari Kau, di bangku itu, terbujur Begitu cepat berangkat Tak kubaca: kapan kereta lewat?

Orkestra Bunga Gugur

Akhirnya hanya kesunyian yang kuterima Dan binkai lukisan. Pada dinding itu Tak ada lagi suara, hanya saruk-saruk kaki menjauh Dan tinggal tik tok jam Menajamkan luka Hanya bunga yang sempat gugur dari pigura Mungkin musim yang telah kau tabur Menyesatkannya ke jagat di luar kaca (Antara tidur dan terjaga) Dan kupungut wanginya Kutanam dalam liang luka

Orkestra Di Halte-Halte

Ingin sendirian dan kekal Menghembuskan kebosanan demi kebosanan Menunggu sampai tertatap gugur daun Terperangkap bayangan yang pasti dan jauh Ingin sendirian memandangimu Tidur di liang lukaku Sebelum terdengar suara lonceng Memanggil manggil keberangkatanmu

Nyanyian Matahari

Barangkali hanya daun yang meratap Sebelum dipeluk dingin tanah yang fana Detik-detik jam yang membatasi usia Meninggalkan getar bisik matahari Barangkali hanya daun Bayangan pun masih mengabur pada dahan Saat melayang, dilepaskan doa-doa kekal Syair yang diucapkan gelap malam Ranjang yang senantiasa menjajikan mimpi maha panjang Barangkali hanya daun Ditikam tombak pada jantungnya

Orkestra Di Daun-Daun

Telah kudengar bisikmu jauh daun-daun jatuh Terpetik luka matahari musim kematian Telah kudengar jerit mengadu daun-daun membusuk dalam tanah yang basah. Terbangun dunia baru bagai pesta ulat-ulat dan cacing tanah Musik yang senatiasa dinyanyikan Dan nyanyian luka yang menggetarkan igauan Karya: Dorothea Rosa Herliany

Berita Kematian

Gambar
Akhirnya lepas bersama gugur daun Selembar mimpi di luar tidurmu Tatap pun jadi jauh Menembus batas cakrawala Akhirnya tinggal gaun Di atas ranjang tanpa mimpi Akhirnya menyingkir sampai paling tepi Akhirnya lengkap segala sunyi Tinggal bisikmu Tak tertangkap tajam badik Sang matahari Karya: Dorothea Rosa Herliany

Lukisan Dinding

Kau lihat matahari telah mengabadi Pada bingkai di atas ranjang tidurmu tak perlu jendela itu, Sebab abad yang terus berpacu Kau lihat angin yang datang melapukan daun pintu Masuklah lewat mimpi jika Ingin bergegas Abad pun lebih kekal menunggu Dan kita berkemas Menyambut ketukan pada pintu Karya: Dorotea Rosa Herliany

Keberangkatan

Sebab waktu pun bertambah tua, Dan kalender di dinding tanggal ke lantai Aku harus berangkat. Seandainya ada yang harus kuucapkan, Mungkin hanya "selamat tinggal" Sebelum perahu bertolak dan tinggal ombak putih berbuncah Dalam pandanganmu